Friday, January 8, 2016

BUNDA THERESA


Dalam kehidupan dunia yang begitu menggoda, sedikit sekali manusia yang mampu menemukan dirinya.
Dari yang sedikit itu, salah satunya adalah bunda Theresa. Bunda Theresa adalah seorang yang berkebangsaan Albania. Sejak usia 8 tahun ia sudah ditinggal mati ayahnya.
Ketika mengajar di India, dirinya "terganggu" oleh penderitaan disekelilingnya. Ia menghadapi kemiskinan, kelaparan, kematian dan kekerasan akibat bentrokan berdarah Hindu dan Muslim di Benggala. Dalam perjalanan ke Kalkuta, ia goyah ketika mendengar kata "saya haus.." dari seorang miskin di hadapannya.
Maka keluarlah ia dari zona nyamannya di Kesusteran Loreto, dan ia sepenuhnya membaktikan diri untuk melayani "orang2 termiskin dari kaum miskin".
Perjuangannya sangat berat diluar ukuran manusia biasa. Ia juga jatuh miskin dan kelaparan, dan sulit mencari tempat tinggal yg layak. Di saat yang sama pikirannya tergoda utk kembali ke kesusteran. Guncangan dalam jiwanya ia tuliskan dalam buku hariannya.
“Tuhan ingin saya masuk dalam kemelaratan. Hari ini saya mendapat pelajaran yang baik. Kemelaratan para orang miskin pastilah sangat keras.
Ketika saya mencari tempat tinggal, saya berjalan dan terus berjalan sampai lengan dan kaki saya sakit. Saya bayangkan bagaimana mereka sakit jiwa dan raga, mencari tempat tinggal, makanan dan kesehatan.
Kemudian kenikmatan Loreto datang pada saya. ‘Kamu hanya perlu mengatakan dan semuanya akan menjadi milikmu lagi,’ kata sang penggoda...
Sebuah pilihan bebas, Tuhanku, cintaku untukmu, aku ingin tetap bertahan dan melakukan segala keinginan-Mu merupakan kehormatan bagiku. Aku tidak akan membiarkan satu tetes air mata jatuh karenanya.”
Ia memilih meninggalkan kenyamanan duniawi dan menggapai nilai spiritual tertinggi dalam hidupnya yaitu melayani manusia, tanpa memandang apapun agamanya.
Ia menjadi "malaikat yang diturunkan Tuhan" bagi orang2 miskin disekitarnya. Seorang muslim di India bercerita bahwa "kemanusiaan adalah agama terbesar manusia dan ia mewakili itu." Seorang beragama Hindu mengatakan, "setelah menjadi orang Kudus ( gelar yang akan diberikan kepada bunda Theresa ), ia sekarang seperti dewa Hindu bagi saya." Ia merebut cinta di dada rakyat India.
Kemuliaan bunda Theresa terletak pada hilangnya nafsu dunianya dan dipersembahkannya pada orang2 miskin. Ia mengumpulkan amal-amal yg berserakan disekitarnya, dan membungkusnya menjadi "baju yang indah" yang akan dipakainya saat bertemu Tuhannya.
Egonya luruh ditangan2 kurus yang menggapai meminta makan. Airmatanya runtuh melihat bayi2 hidup tanpa susu ditinggal mati ibunya. Ia seperti mempunyai sayap di belakang punggungnya, terbang kesana kemari melayani kaum papa, para utusan Tuhan.
Almarhum Ayatullah Khomeini seorang ulama besar pernah berkata, "Menjadi ulama itu mudah. Paling sulit itu menjadi manusia.." Dan bunda Theresa secara utuh memfungsikan dirinya. Ia menemukan Tuhan dan dirinya dalam seluruh kehidupannya.
Bunda Theresa adalah seorang santa bagi umat Katolik, dan ia adalah seorang manusia bagi saya. Karena pada dasarnya manusia itu suci, duniawilah yang menjadikan kita separuh binatang.
Bunda Theresa adalah secangkir kopi, dimana ia mampu memberikan rasa manis pada kepahitan hidup manusia miskin di sekitarnya.
Pantas saja ia dianggap Santa. Ia memang layak untuk itu. Membayangkan apa yang diakukannya, serasa kerdil semua kesombongan yang ada di dalam dada. Tuhan memberkatimu, wahai Santa Theresa.

No comments:

Post a Comment