Saturday, January 9, 2016

AHOK, RIDWAN KAMIL & RISMA


Partai politik di Indonesia ini lucu.
Mereka mirip produser lagu. Ketika musimnya lagu dangdut, ramai-ramai produksi dangdut. Ketika lagi nge-hits pop melayu, semua lagu di Indonesia nuansanya sama. Gada kreatif2nya, nebeng situasi doang. Ga punya alternatif yang mencuri perhatian.
Memperebutkan kursi Gubernur DKI Jakarta dengan menandingkan Ridwan Kamil, Ahok dan Risma sebenarnya adalah kegagapan partai politik dalam menghadapi perubahan pola pikir masyarakat yang semakin kritis dan menuntut.
Mereka sungguh krisis kader yang bagus, jujur apalagi bersih di internal partainya. Lihat saja Ahok, Ridwan Kamil dan Risma sesungguhnya bukan kader partai yg dipersiapkan. Mereka adalah orang2 independen yang menggunakan jalur partai sebagai kendaraannya, entah mereka melamar atau dilamar.
Ridwan Kamil dengan tegas menyatakan bahwa dia bukan kader Gerindra dan PKS. Dia hanya "didukung" oleh mereka. Sedangkan bu Risma adalah seorang birokrat yang dilamar PDI-P untuk menjadi wakil kadernya, Bambang DH.
Ahok juga sama, ia dulu menjadi wakil Golkar di parlemen daerahnya dan diusung Gerindra untuk menjadi wagub mendampingi Jokowi.
Jadi, kemana kader asli partai2 itu ? Dimana mereka ketika bermunculan potensi2 muda untuk memimpin dengan benar ? Mereka sulit muncul, karena tidak mendapat peluang di internal partai. Atau memang partai tidak mampu menggodok calon pemimpin berkualitas. Atau memang mereka yang calon itu akhirnya ber-adaptasi menjadi oportunis dan pragmatis karena kondisi di internal yg penuh intrik, uang, dan kedekatan. Harus jadi penjilat dulu supaya bisa naik pangkat.
Inilah kegagalan sesungguhnya dari partai2 itu. Itulah juga mengapa rakyat lebih cenderung memilih sosok daripada melihat siapa partai pendukungnya. Karena sejatinya, rakyat sudah muak dengan yang namanya "partai", apapun namanya.
Berebut ketiga sosok berpengaruh itu dan menandingkannya dalam satu ring, adalah bukti gagap berjamaah. Panik dan tidak siap dengan lawan tanding yg memadai, sehingga harus main comot. Dikira Indonesia ini cuman Jakarta aja apa ?
Biarkan Ridwan Kamil di Bandung, atau posisikan dia di Jabar. Begitu juga bu Risma. Ahok masih layak memimpin Jakarta. Posisikan semua pada tempatnya.
Bu Risma di Jakarta akan sulit bertahan karena Jakarta bukan Surabaya. Disana musuhnya bukan serigala, tapi T-Rex. Taring dan rahangnya besar2. Ridwan Kamil adalah elang di Bandung, tapi di Jakarta dia bisa jadi lalapan. Memang cuman Ahok yang bisa jadi Tarzan disana, dengan cangcut daun bergelantungan dan membabat para predator2 yang ganas.
Koh Ahok, tetaplah menjadi calon independen. Berikan kami pelajaran bahwa semua orang yang jujur dan didukung rakyat bisa menjadi pejabat. Jangan mau disetir2 dan dinego partai. Mereka itu ingin memanfaatkan namamu, bukan engkau yang butuh mereka. Jika engkau menang, tentu akan menjadi inspirasi bagi calon2 muda yang sedang dalam pertumbuhan.
Jakarta itu cuman pertarungan gengsi aja. Mbok ya perhatikan adhyaksa dault, sandiaga uno, fadli zon dan tantowi yahya. Mereka semangat lho. Masa gada yang mau berebut mereka ? Mereka mau juga direbut2... Mungkin dalam hati mereka berteriak2 histeris, "Renggut aku mas... Renggut akyuuu.."
Diantara mereka pasti ada yang gemas sambil menggigit2 bantal ungu.
dennysiregar.com

No comments:

Post a Comment