Friday, January 8, 2016

manusia-manusia symbol


Seorang teman heran, kenapa orang2 disekelilingnya yang secara pendidikan sangat bagus, lulusan universitas negeri ternama, pekerjaan mapan, mendadak dalam pemahaman agama menjadi bodoh dan cenderung radikal ?
Saya sudah tidak heran, karena sudah mengamati sejak lama fenomena itu.
Pada dasarnya, banyak orang yang mengukur orang lain dengan simbol2. Mereka yang duniawi mengukur simbol kesuksesan dengan hartanya. Mereka bergaul dalam level kesuksesan yg setara. Kalau ada yg lebih sukses ia merasa rendah diri, kalau dia melihat orang yg kurang sukses, mencemooh.
Begitu juga dikalangan ilmuwan atau profesional. Gelar2 pendidikan adalah simbol2, sebuah ukuran. Mereka kadang memanggil seseorang dgn gelarnya demi menghormati simbolnya. Saya pernah berada dalam satu ruangan yang semuanya dokter dan mereka semua saling memanggil dengan nama sama, yaitu "dok.." Hanya saya sendirian yang bukan "dok.." Mungkin mereka menganggap saya si "pret.."
Ketika seseorang terbiasa memuja simbol duniawi, maka ia juga akan memuja simbol2 akhirat. Ia akan rendah diri berhadapan dengan seorang yg bergelar "ustad" ataupun "ulama". Apalagi ketika ustad atau ulama itu direkomendasi oleh rekannya yang bertitel tinggi dan lebih mapan dalam kerjaan, yang pasti lebih sukses secara harta.
Mereka yang terbiasa dengan simbol duniawi, akan langsung merasa bodoh dalam keagamaan ketika berhadapan dgn orang yg dia anggap lebih paham tentang akhirat. Akhirnya ia mencontoh apa saja yg dipakai orang itu dan mengikuti apa saja yang dikatakan orang itu.
Dan menariknya lagi, ketika ia bertemu dengan orang yg "belum agamis" seperti dirinya, ia cenderung menilai dan mengukur dirinya lebih tinggi. Karena itu lidahnya dgn mudah mengatakan kafir, sesat, musyrik dan lain2.
Begitulah hakikatnya para pemuja simbol. Ia tidak mampu melihat kedalaman ilmu seseorang, karena ia selalu melihat ketinggian ilmu seseorang. Semakin ia merasa ikut tinggi, maka ia akan memandang rendah sesuatu yg dibawahnya. Berbeda dengan orang yang berada di kedalaman, mereka akan lebih senang menyelam lebih dalam karena ia sebenarnya adalah pencari mutiara.
Akar kebodohan mereka yang merasa tinggi itu sebenarnya ada di sifat Tuhan yang dipakai iblis, yaitu sombong. Sifat sombong iblis-lah yang membuatnya merasa paling dekat kepada Tuhan, sehingga ia tidak mau menunduk dihadapan Nabi Adam as.
Dan karena seseorang itu memakai pakaian sombong, maka Tuhan murka. Dihilangkanlah nikmat akalnya. "Ketika Allah hendak menghilangkan nikmat dari seseorang, maka yang nikmat pertama kali akan dihilangkan adalah akalnya" begitulah kata Imam Ali as.
Menarik, kan ?
Lalu bagaimana supaya kita tidak menjadi sombong, baik dalam sikap kita di dunia maupun terhadap ilmu akhirat ?
Kunci jawabannya kembali saya dapatkan melalui petuah Imam Ali as. "Ampunilah mereka yang toleran, karena Allah yang akan mengangkatnya dari kesalahan."
Toleran adalah sikap yang berasal dari hati dan menjadikan seseorang rendah hati, jadi bukan klaim di mulut dengan hati yang tinggi. Semakin toleran seseorang, maka semakin ia merendah pada orang lain. Itulah ahlak.
Sudah malam, secangkir kopi terakhir sudah tinggal ampasnya.
Jadi, tolonglah bersikap toleran ketika saya bicara tentang bantal Hello Kitty. Jangan tertawakan saya, saya tahu anda tertawa2 sambil memeluk guling Snoopy.

No comments:

Post a Comment